PPLH Bohorok

Didirikan sejak tahun 1998 di Bukit Lawang, kecamatan Bohorok, Sumatera Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Pelestarian ekosistem hutan hujan tropik dengan ikon orangutan Sumatera (Pong Abelii) menjadi fokus utamanya.

Selain kampanye pelestarian hutan bersama dengan orangutannya, PPLH bohorok juga memiliki fasilitas "Ecofarming Centre" Pusat Pertanian Organik.

Sebagai penunjang kegiatan, di lahan PPLH Bohorok berdiri penginapan "Ecolodge Bukit Lawang" dengan konsep bangunan yang juga unik. Pada tahun 2015 dibangun "Restoran Kapal Bambu" yang kemudian menjadi ikon penginapan ini dengan desain yang indah sebagai perwujudan eco-asitektur yang ramah lingkungan.
Selengkapnya …

PPLH Seloliman

Dinamakan PPLH Seloliman karena berada di perbukitan sejuk lereng gunung Penanggungan tepatnya di Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, PPLH pertama ini didirikan pada 15 Mei 1990.

Pertanian organik menjadi fokus utamanya karena letaknya di pulau Jawa yang padat penduduk. Konsep pendidikan lingkungan yang didukung oleh fasilitas lahan pertanian, penginapan, asrama serta restoran dengan desain yang unik menjadikannya PPLH pertama yang menggabungkan konsep pendidikan lingkungan dengan pariwisata.
Selengkapnya …

PPLH Puntondo

Terletak di tepian laut Sulawesi Selatan, sekitar 60 km selatan dari Makassar, PPLH Puntondo ini dianugerahi keindahan pemandangan pantai dengan pepohonan yang unik mempesona. Kelestarian ekosistem pantai, terutama hutan bakau, padang lamun dan ekosistem karang adalah fokus utamanya. Keistimewaan kebudayaan kampung nelayan dengan industri rumah (home industry) rumput laut menjadi atraksi tamu dan menambah penghasilan penduduk.
Selengkapnya …

Sejarah PPLH

Apa itu PPLH?

Pada tahun 1990 lahirlah ide pendirian "Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup", disingkat PPLH oleh Yayasan Indonesia Hijau (YIH).

YIH yang didirikan pada tahun 1978 merupakan LSM pertama yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Waktu itu LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonedia (WALHI) juga lahir dan keduanya secara bersama menempati kantor Menteri Prof. Dr. Emil Salim, yang merupakan Menteri Lingkungan Hidup pertama di Indonesia.

Kenapa perlu PPLH?

Dokter hewan drh. Suryo Prawiro Atmojo adalah salah satu pengerak ide PPLH tersebut. Waktu itu beliau masih muda dan baru tamat dari IPB Bogor dan mengemukan idenya "Kita perlu satu pusat dengan fasilitas lengkap untuk menerima anak sekolah, pelajar, keluarga dan kelompok LSM, perusahan, dll. untuk membangun kesadaran terhadap kepentingan kelestarian alam, flora dan fauna dan ekosistem hutan hujan tropik secara keseluruhan! Kelanjutan kehidupan di dunia ini, termasuk kita manusia, tergantung dari keseimbangan antara alam dan kegiatan manusia."

Cukup banyak orang mendukung ide ini, dan YIH berhasil memperoleh dana dari WWF, Worldwide Fund for Nature.

Kenapa lahir di Surabaya?

Pada awalnya PPLH pertama akan didirikan di sekitar Bogor, karena di lokasi ini PPLH akan mudah dicapai oleh penduduk dari Jakarta, serta kota-kota besar lain, seperti Bogor, Sukabumi, dll. Suryo dan teman-teman berusaha keras mencari lokasi serta tanah yang cocok. Tetapi tidak berhasil! Akhirnya Suryo cari di daerah Surabaya, darimana dia berasal. "Disini saya punya jaringan perkenalan yang luas!" ujarnya. Akhirnya diperoleh lahan yang cocok seluas 3,7 Ha di Dusun Biting, Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Arsitektur dan formula yang berhasil

Arsitek sukarelawan dari Jerman Ulrich Fuhrke, bertemu dengan Suryo di Surabaya kemudian mereka bersama menciptakan disain PPLH Seloliman yang cukup unik. Fasilitas aula, perpustakaan dan administrasi dikombinasikan dengan fasilitas restoran, asrama dan penginapan yang cocok untuk pelajar tetapi juga siap menerima tamu umum, termasuk turis dari luar negeri, yang cari hiburan saja.

Konsep PPLH ini merupakan formula yang berhasil di masa depan, keuntungan dari restoran dan penginapan/asrama mendukung defisit program-program pendidikan lingkungan untuk pelajar. Tentu saja kelompok pelajar dari sekolah tak sanggup membayar mahal, berarti biaya program tak mungkin tertutupi. Tetapi keluarga-keluarga dan kelompok perusahan dari kota, serta wisatawan asing yang tertarik berkunjung ke PPLH Seloliman yang biaya relatif lebih mahal dibanding pelajar, diharapkan bisa menutupi defisit tersebut.

Kenapa fokus pada pertanian organik?

Pada tahun 1990 PPLH Seloliman selesai dan siap beroperasi. Pemilik utama adalah YIH, tetapi pada tahun 2006 dibentuk Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS) yang kemudian menjadi pemilik PPLH Seloliman sekarang.

PPLH pertama yang berada di kaki Gunung Penanggunan ini fokus utama pada pertanian organik, karena di kepulauan Jawa yang padat penduduk, kelestarian alamnya sudah hampir hilang kecuali pada kawasan pegunungan, yang cokok untuk pertanian. Ironisnya pola pertanian yang berkembang di pulau Jawa masih konvensional yang menggunakan bahan kimia berbahaya dalam budidaya tanaman. Hal tersebut bisa mengancam keaneka ragaman hayati ekosistem yang ada. Sehingga pola pertanian organik dianggap cukup representatif untuk mengembalikan kekayaan hayati dan ekosistem pertanian dan pegunungan.

PPLH kedua lahir!

Pada tahun 1998 di pinggir taman nasional Gunung Leuser didirikan PPLH Bohorok, dengan fokus ekosistem hutan hujan tropik dan iconnya orang utan Sumatera. Tetapi pertanian organik tetap punya kepentingan pada PPLH ini juga. Pada tahun 2007 didirikan "Pusat Pertanian Organik Timbang Lawan“ (Eco-Farming Centre Timbang Lawan). Sampai sekarang, PPLH Bohorok dimiliki dan dikelolah oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), yang didirikan pada tahun 2000 di Medan.

Ecolodge Bukit Lawang dan Kapal Bambu

Di lahan PPLH berada sebuah hotel bernama "Bukit Lawang Cottages" kemudian hotel ini disebut "Ecolodge Bukit Lawang", yang menjadi pusat keuntungan (profit centre) untuk membiayi program-program pendidikan lingkungan hidup di PPLH Bohorok.

Pada tahun 2015 di lahan Ecolodge dibangun sebuah "Restoran Kapal Bambu" , PPLH Bohorok memperoleh icon baru! Eko-asitektur dari bambu cukup unik dan lestari, karena tidak merusak hutan hujan tropik. Di lahan manapun, bambu bertumbuh cepat dan dapat dipanen terus menerus.

Bencana alam merusak pariwisata

Pada November 2003 terjadi banjir bandang di Bukit Lawang yang menimbulkan lebih dari 600 korban jiwa. Kunjungan wisatawan yang kira-kira bisa mencapai lebih dari 500.000 turis lokal maupun asing berhenti! Banyak penduduk yang hidup dari pariwisata kehilangan pekerjaan. Karena terletak di atas permukaan sungai, PPLH Bohorok tidak terkena banjir bandang tetapi terkena dampak kehilangan penunjung, PPLH dan Ecolodge juga tidak bisa berfungsi dan operasinya berhenti. Sampai tahun 2005 keadaan sekali, kemudian kegiatan mulai lagi dan pelahan-lahan berkembang.

PPLH Puntondo, PPLH ketiga berfokus ekosistem laut dan pesisir

Pada awalnya PPLH Puntondo merupakan "cabang" PPLH Seloliman, PPLH ketiga ini diresmikan pada tahun 2001 di pinggir laut Sulawesi Selatan, sekitar 80 km selatan dari Makassar. Kekurangan ait tawar adalah tantangan besar PPLH ini. Kecantikan pemandangan pantai dengan pepohonan yang unik mempesona penunjung. Kelestarian ekosistem pantai, terutama hutan bakau, dan ekosistem karang adalah fokus PPLH ini. Keistimewaan kebudayaan kampung nelayan dengan industri rumah (home industry) rumput laut menjadi atraksi tamu dan menambah penghasilan penduduk.